Vingt-Quatre || 24

Hari ini, tepat 24 Oktober 2015.

Mungkin bagi kalian, hari ini cuma sekedar hari hari biasa, mungkin sedikit lebih fun karena hari ini hari Sabtu. Atau mungkin not really a good day karena kalian masih sekolah di hari Sabtu.

But to me, today, means alot. Mungkin akan jadi salah satu tanggal yang selalu gue ingat setiap saat, disamping tanggal ulang tahun gue.

Today, exactly one year ago, October 24 2014, gue jadian. No, bukan sembarang jadian. Some people say, you will never get over and forget your first love, right? That is why.

He is this guy, bukan cowo eksis kok di sekolah gue. Dia biasa aja, bahkan cenderung geek dan nerd. Hobinya di sekolah cuma main gitar sama ngobrol dengan dua teman terdekatnya. Picture him as a really sweet Chinese-Deutch-Indo guy. Itu dia.

His name came from a Germans word, yang artinya itu angka 4.

My love story, or i can say, OUR love story, bener bener keren banget, malah menurut gue gak akan bisa di lupain. Every moment of it. Ever single one.

Gue kenal dia saat gue kelas 5 SD. Gue dikelas 5D, dia di kelas 5C. Gue gak tau nama dia, bahkan gue gak pernah ngeh dari kelas 1SD kalo sebenernya kita udah satu angkatan. Gue baru kenal dia gara-gara waktu itu dia deket banget sama satu cewe di kelasnya, she was half bule dan cantik banget.

Dulu gue hobi banget berlama-lama di kelas sampai rombongan kelas dia keluar, dan dia akan jalan bareng temen-temennya ngelewatin kelas gue, sambil ketawa-ketawa.

I don’t even know his name, man.

Di kelas 6, dia masuk ke kelas 6C dan gue di kelas 6A. Karena gue punya temen deket di 6C, gue jadi tau nama dia.

Dia orangnya ngakak. Dulu bahkan, kelas 6, pertama kali nge greet gue via Facebook. Dia nge chat gue dan manggil gue ‘marmut’, because he said my teeth was really funny. Geez.

Sejak itu, kita jadi sering chat setiap hari. Or at least, setiap minggu. Cerita macem macem, send macem macem, waktu itu semuanya sederhana. Cuma convo kecil. But, you know what, sometimes the smallest things in life took up the most room in our heart.

Terus gue juga pernah ngambek sama dia, ahahaha. Lupa sih gara-gara apa. Tapi yang pasti, waktu itu Facebooknya gue block. Gue bener bener kesel sampai gamau nyapa dia kemana mana.

You know what he did? Dia ngedatengin adek gue, Jo, yang saat itu kelas 5, tiap ketemu di kantin, dan bilang “eh bilangin ke kakak lo, jangan marah-marah terus dong,” Terus dia kemudian bikin Facebook baru, dan nge add gue. Dia bilang, dia minta maaf terus bikin fb baru soalnya kangen chat.

Pernah satu hari. Temen deket dia, Rey, ngedatengin gue dan be like “Eh del, lo tau ga, dia suka sama lo,” dan gue ga take it seriously. Tapi keesokan harinya, dateng lagi temen gue, Reyhan, yang juga namanya disingkat Rey, dan ngomong hal yang persis sama.

Gue kaget, half ga percaya.

Tapi kemudian heboh banget di angkatan kalo dia lagi deket sama temennya yg lain. And I’m like, well, trying to be okay.

Kita jadi menjauh. Tapi, sepanjang liburan kenaikan ke kelas 7, gue jadi deket sama dia. Kita chat random banget setiap hari, ngomongin berbagai macam hal hal gajelas. Our little convo, yang orang orang lain gak bakal ngerti.

Awal kelas 7, kita jadi deket banget. Lari-larian pas istirahat. Dia narik kunciran gue. Kebetulan, kelas kita sebelahan. Bahkan pintunya nempel. 7D dan 7E. Hampir setiap kali ketemu selalu ngobrol ini itu.

Skip it, actually dia nembak gue bulan Oktober, waktu ada acara pensi SMA di sekolah gue, Castrophy. Gue bahkan ga mikir at all gue bakal di tembak apa gimana. Saat itu gue lagi fokus chat sama mama gue and she was asking wats up wit the thing.

Tiba-tiba, someone kind of hugging me. Kaya naro tangan di pundak gue and everything was in fast forward. Dia bisikkin satu kalimat. Terus gue bener bener udah gak tau lagi mau gimana. Diem aja. Speechless.

But then I said Yes and it was kind of a thing.

Chat dia, makan bekal bareng, jajan bareng AHAHAHAHA, ketawa ketawa, kita ngetawain orang, dia ngacak ngacak rambut gue sambil ngomong “aku ke kelas dulu ya,”. Dia meluk gue dengan sweater captain america dia, yang setelahnya gak pernah dia pake lagi ke sekolah AHAHA.

Shit, how I miss all of them.

Kita eventually stays together sampai June 16. For some reasons, kita memang harus berhenti di situ. Gak bisa lanjut lagi. We are stuck and there is no way out. Everything about us become really toxic.

Sehari setelahnya, dia greet gue dan nemenin gue begadang sampai jam 1 an.

I was really down for 2 months and a half. Menyesal sama semuanya, kangen. Everytime we pass each other at the hallway, semuanya jadi begitu awkward. Dingin. It’s like we stood there, looking at each other, saying nothing. But it was the kind of nothing that meant everything.

Kita udah kaya sama sekali ga kenal.

We are strangers.

With memories.

Tapi setelah down times itu lewat, gue dan dia sama sama mulai healing and accepting the thing, kita mulai bisa sosialisasi lagi dengan normal, jadi happy ketawa ketawa tanpa fake smile, dan bisa mulai belajar untuk menurunkan rasa kangen itu ke tolerable level.

We changed. Both of us.

Setelahnya, kita mulai saling senyum kalo papasan. Gak bilang apa apa, tapi tatapan mata, senyum. Semakin lama semakin sering. Sampai akhirnya dia mulai nge greet gue lagi.

Kita mulai chat lagi, dengan lo gue, dengan santai, memulai semuanya dari 0. Kita, teman. Dari chat yang awkward gajelas, pelan pelan kita mulai bikin other new inside jokes.

Kita mulai saling ngobrol kalo ketemu di sekolah, bahkan sekarang gue udh bisa main main sama dia kaya dulu jaman pdkt ahaha. Gue kenalan sama adiknya juga. Things get better. Gue sama dia deket lagi, as a friend. Kita juga jadi lebih asik daripada sebelumnya.

You know, the second time around, things get a lot more sense. Lo jadi ngerti, paham, kenapa semuanya terjadi. Sometimes the hardest goodbyes leads to the best hellos.

Hari ini, seharusnya, gue anniversarry 1 tahun sama dia. Right, satu tahun. Kind of a failed anniversarry. Seharian ini, gue melakukan kilas balik selama satu tahun. Semua yang terjadi, every single memories in it.

Kalau gue bisa punya mesin waktu, gue gak mau menghilangkan momen-momen sedih di hidup gue. Tapi gue mau kembali ke semua momen bahagia di satu tahun ini, an re-living it.

Re-living the feels ketika lo dibisikin sambil di rangkul, ketika lo di peluk and you can hear his goddamn heartbeat, ketika rambut lo di acak acak, ketika lo ngobrol sama dia, bercanda, chat sama dia. Ketika dia bilang “gendut lo, untung gue sayang,” Ketika dia ngasih gue coklat pas Valentine sumpah lucu banget pake kotak snickers.

Ketika dia manggil gue marmut, ketika dia megang tangan gue, ketika dia nge gombalin gue, yang sebenernya garing banget. Ketika dia bilang bahwa dia mau ngenalin gue ke adiknya. Ketika dia ngajak gue jajan bareng. Ketika dia ngeliatin gue pas kita ulangan mid karena kita seruangan. Ketika dia senyum. Ketika dia ketiduran ahahaha lucu bgt mukanya i cannot.

Semuanya itu, hal hal sederhana.

Dia gak ngajak gue nonton bareng, dia gak pernah gendong-gendong gue. Kita jajan bareng cuma sekali. Dia gapernah ngasih gue bunga atau boneka. Dia juga gapernah ngajak gue pulang bareng. Dia kadang suka awkward if we are together. Semua yang dia lakuin itu cuma hal hal kecil.

And maybe, just maybe, hal hal kecil itu lah yang membuat all of us exist and alive. Hal hal kecil itu bikin kita percaya bahwa cinta itu ada. Dan hal kecil itulah yang bikin gue jadi sayang sama dia.

———————————————-

This is a little tribute for my ex-boyfriend a.k.a my partner in crime a.k.a moi best fwend. Moving on doesnt mean you never forget, right? I love him.

Yours sincerely,

adel.

Advertisements

2 thoughts on “Vingt-Quatre || 24

What Do You Think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s