Terjebak Masa Lalu

Gue merasa kalau gue itu termasuk orang yang susah buat nyaman sama suatu keadaan baru. Gue susah deket sama orang lain, susah punya temen baru, susah untuk beradaptasi. Dan hal ini terjadi dalam berbagai aspek kehidupan gue.

Ketika mencari temen baru, gue cenderung ‘pemilih’ dan susah buat punya temen baru. Kalau pergi ke suasana baru, gue cenderung awkward sendiri. Meskipun gue beruntung karena punya kemampuan memotivasi diri, jadi pada akhirnya, i’m good.

Tapi, efek dari sikap gue yang susah dekat dan susah nyaman itu, adalah ketika akhirnya gue menemukan orang yang membuat gue merasa nyaman. Suasana yang cocok dengan diri gue.

Gue akan bener-bener nempel dan menyatu dengan hal itu. Sisi baiknya, gue jadi punya banyak temen deket yang memang gue kenal sejak gue kecil. Tapi, in the other hand, gue susah banget buat menerima perubahan dalam diri gue.

Baru-baru ini gue ngerasain lagi efek jelek dari sikap gue itu.

Months ago, gue pernah cerita tentang kelas 7 gue kan, Endog Squad? Iya. Bahkan sampai sekarang, gue masih lebih sering main sama mereka-mereka dibanding sama, well, bahkan anak kelas gue sendiri.

Banyak orang bilang sesuatu kaya “gila kelas kalian masih solid banget”, atau “ih enak banget sih masih kompak” atau sesuatu kaya gitu. Dan ya, jujur aja, gue bangga banget.

Tapi semakin ke sini gue makin sadar, bahwa hampir semua orang yang dulu deket sama gue pas kelas 7, sudah punya teman-teman mereka yang baru. Teman-teman yang sekelas dengan mereka. Gue jadi suka kesel sendiri kalau liat temen gue main sama temen baru mereka.

Padahal, hal itu adalah sesuatu yang sangat-sangat normal. Perubahan. Perpindahan. Hal paling wajar yang pasti akan terjadi dalam hidup.

Kita gak bisa selamanya terjebak di masa lalu.

Kemarin, waktu classmeet, sempet semua janjian untuk pake lagi baju kelas kita dulu. Dan ketika pagi-pagi gue turun dengan baju kelas untuk sarapan, papa gue nanya, “kamu kenapa pake baju kelas tujuh lagi?”

Dan gue bilang, “hehe iya aku janjian lagi sama  temen-temen kelas tujuh aku,” dan gue mengucapkan itu dengan bangga, berpikir bahwa papa gue akan bilang sesuatu yang kaya, ‘wow kelas tujuh kamu solid banget’.

Tauga jawaban papa gue apa? “Loh, kok gitu? Gak bagus loh del, terjebak di masa lalu,” and those god damn words hit me like a truck.

Belum puas, siangnya, ketika acara classmeet udah selesai, gue bilang ke salah satu temen gue yang dulu juga di 7E, “eh nanti 7E foto bareng lagi yuk,”

Dan respon dia adalah, “engga ah del. Kelas kita udah beda. Gue harus support apa yang ada sekarang. 7E itu masa lalu,” and again, it hits me so hard i just stand there, saying nothing.

Mungkin memang apa yang mereka bilang itu bener. Kita gak bisa terjebak terus di masa lalu. Karena apa yang kita punya itu, di masa sekarang. Hidup yang kita jalani itu, sekarang. Bukan masa lalu.

Selama ini gue gak terlalu solid sama anak-anak di kelas gue yang sekarang karena gue merasa mereka gak seseru, seasik, dan serame anak-anak kelas tujuh gue dulu.

Tapi mungkin, semua itu karena gue masih belum bisa move on dari 7E. Gue masih suka ngebandingin kelas dulu dengan kelas gue yang sekarang. Karena gue masih belum bisa menerima kenyataan bahwa, ya, gak semua orang itu akan ada yang se-rame Rachel, se-tomboy Emma, atau se-asik Itin, atau se-pinter Kevin.

Sama halnya dengan cinta. Bagaimana caranya kita bisa move on dari seseorang, kalau kita belum bisa merelakan semua hal yang pernah kita lakukan dengan orang itu di masa lalu?

Dia pernah nyapa lo dengan kata-kata manis?

Dia pernah ngucapin good morning dan good night?

Dia pernah bikin gue seneng bilang ini itu?

Semua itu di masa lalu.

Dan sampai kapanpun, kita gak akan berhasil buat move on, ketemu orang-orang baru, dan jatuh cinta sama orang yang lebih baik, kalau kita masih terus nyaman dan gak mau pergi dari yang lama.

Karena kita gak akan pernah tau seberapa banyak orang-orang di luar sana, yang sayang sama kita dengan tulus, stay buat kita, kalau kita sendiri masih mengejar dan mengharapkan orang yang bahkan gak peduli sama kita.

Gue jadi ingat sebuah quote dari Raditya Dika, diambil dari bukunya yang berjudul Manusia Setengah Salmon

“Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya….. Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan.

Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.”
Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon

Dan ya, kata-kata di atas itu benar banget. Terkadang untuk menjadi seseorang yang lebih baik, punya kelas yang lebih baik, dan kenal dan sayang plus disayang sama orang yang lebih baik, kita gak perlu ngelakuin terlalu banyak hal.

Kita hanya butuh “berani pindah”. Berani mencoba hal baru. Berani memasuki suasana baru. Berani menyapa duluan.

Karena kita gak tau seberapa banyak kesempatan baik yang sudah kita lewatkan hanya karena kita masih merasa terikat dengan sesuatu di masa lalu.

And yes, memories kills us, indeed.

 

adel

 

Advertisements

What Do You Think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s