How We (Should) Handle Stereotypes

Happy (late) International Women’s Day!

Yap, kemarin itu kita ngerayain Hari Perempuan Internasional. Mungkin kalian bisa tau dari filter snapchat kemarin yang bagus banget! Tapi sayangnya, hari kemarin tuh belum dirayakan terlalu heboh gimana di negara kita.

I’m a feminist.

Dan sejak kecil, gue selalu dididik, terutama sama mama gue, bahwa menjadi perempuan itu mudah. Itu tergantung dengan apa yang kamu punya sejak kamu lahir. Tapi, jadi perempuan doang itu gak cukup.

Banyak stereotypes tentang perempuan. Kalau kita itu lemah, warga kelas dua, harusnya di rumah, gak bisa olahraga, blah blah blah. Banyak.

Dan ya, itu meresahkan banget buat gue. And nope, bukan karena perempuan punya image dan stereotypes yang seperti itu. Bukan karena pandangan masyarakat yang masih menanggap perempuan itu ‘warga kelas dua’.

Gue merasa, stereotypes itu pengaruh dari luar, eksternal. Jadi, selama gue biasa aja dan selo dengan pandangan itu, gue sih sampai detik ini, masih mengekspresikan diri gue sebagaimana yang gue mau.

Gue yang gak bisa diem, pecicilan, kalau duduk ngangkang, dan tiap istirahat kedua selalu lari-larian buat main petak umpet bareng cowo-cowo. Yang lebih suka bergaul dengan laki-laki daripada dengan perempuan. Yang gak berusaha fit in the society dimana perempuan itu harus dandan, rapih, kalem.

Tapi, yang bikin gue sedih banget, adalah gimana kita, sebagai perempuan, bersikap dan menanggapi stereotypes tersebut.

Kalau lagi ngerumpi bareng temen-temen gue di sekolah, pasti dikit-dikit kita akan mulai bahas cowo kan yah. Mulai dari fisik lah, terus ngelindur sampai bahas ‘nikah’. Duh, padahal baru empat belas tahun. Oke lanjut.

Pernah waktu itu temen gue bilang gini, “gampang elah kita tinggal cari suami tajir, bisa jalan-jalan ke luar negri bareng dia.”

Kata-kata itu pasti sering banget kita denger keluar dari mulut perempuan-perempuan, sampai sekarang.

 

And I’m like,

WHAT.

Gue langsung kaget banget. Karena menurut gue, dengan atau tanpa suami yang ‘tajir’, seorang perempuan seharusnya bisa mandiri and stand up for herself. Bisa punya karir sendiri, kerja, berpenghasilan sendiri. Bukan malah mengharapkan suami tajir.

Atau, mungkin kalian pernah denger dan tau cerita-cerita tentang perempuan-perempuan yang rela memberikan segalanya untuk laki-laki yang dia sukai. Yang sangat-sangat bergantung pada seseorang sampai jadi takut untuk speak up.

Banyak yang bilang, “tanpa kamu aku bukan siapa-siapa.” Atau, “gue gak lengkap tanpa dia,”

Sebuah hubungan itu harusnya dibangun oleh dua orang yang sama-sama solid buat jadi fondasi yang kuat, bukan oleh dua orang yang saling mengisi kelemahan. Kita harus bisa jadi lengkap dan bahagia dengan diri kita sendiri, baru kita bisa membahagiakan orang lain.

Kita harus bisa menghargai dan menyayangi diri kita sendiri, baru kita bisa melakukan hal yang sama ke orang lain. Karena kita gak bisa jadi orang yang ‘kurang’ dan berharap akan datang seseorang untuk membuat kita merasa ‘lengkap’.

Yang paling greget adalah ketika orang bilang bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi, karena toh nanti juga ujung-ujungnya jaga rumah dan ngerawat anak.

Menurut gue, meskipun nanti kita akan jadi ibu rumah tangga, dan ngejaga anak di rumah, setiap perempuan itu HARUS sekolah setinggi mungkin. Harus. Karena setiap anak yang cerdas harus di lahirkan sama ibu yang cerdas.

Me, personally, I’m so grateful untuk punya mama kaya mama gue, dan bukan random mama mama lain yang gak jelas dan mupeng. She is an alpha female, yang bukan hanya cerdas, mandiri dan bisa stand and fight for herself, tapi juga di saat yang sama punya sisi keibuan yang lembut.

Jago matematika lagi. Sampai sekarang, sebenarnya nilai matematika dan fisika gua bisa bertahan di rata-rata 70 karena beliau.

Temen-temen gue suka nanya gini di sekolah, “Del lo bimbel?”

“Kaga,”

“Terus lo belajar gimana?”

“Sama mama gue,”

Gila, bangga banget bisa ngomong gitu. AHAHAHAHAHAHAHA.

Karena banyak temen-temen gue yang mamanya aja udah gak bisa keep up lagi dengan pelajaran anaknya, bahkan lebih gak ngerti dibanding anaknya sendiri.

Dari kecil gue diajarin bahwa, kita itu perempuan.

It’s a privilege for us, but in the same time, its a challenge.

Gue diajarin bahwa seorang perempuan itu bisa kok, jadi cerdas, sekolah tinggi (sampai luar negri), survive tinggal sendiri di luar negri, punya karir, dan tetap bisa ngurus anak-anaknya.

Bahwa perempuan itu pada dasarnya harus tau her self-worth dia, have her self-confidence, gak peduli dengan whatever the -ish society says, dan enggak membiarkan siapapun take advantage, manfaatin kita. Jadi perempuan yang berani buat speak up.

Dan oiya, satu hal.

Banyak laki-laki yang gak suka dengan perempuan yang ini, dengan alpha females. Bukan gak suka sih, tapi mereka cenderung ‘minder’ kali ya sama kita. Dan gue perhatiin, sampai sekarang, banyak kok yang kaya gitu. Laki-laki yang hanya melihat perempuan dari cantik fisiknya dan tingkat sosialnya, dan akan buru-buru menjauh ketika tau bahwa perempuan ini gak ‘lemah’ seperti kebanyakan.

My opinion on this, well, kita gak butuh laki-laki seperti itu. Kita gak perlu menurunkan kualitas diri kita demi seorang cowo yang gak punya usaha untuk meningkatkan kualitas diri dia.

We don’t need a smaller crown, but a man with bigger hands to hold it.

Jadilah perempuan yang bisa balance antara menjadi sosok yang cerdas, tegas, berwibawa, dengan tetap punya sisi lembut, keibuan, khas seorang perempuan.

Harapan gue, kedepannya, setiap anak perempuan bisa punya role model dan didikan yang benar tentang diri mereka sendiri. Bahwa kita gak ‘lemah’, apalagi ‘warga kelas dua’.

Dan cita-cita gue? Gue mau sekolah tinggi, jadi cerdas, punya karir dan jadi mandiri, dan nanti ngajarin anak gue seperti apa yang mama gue ajarin untuk gue dulu.

Ok enough rants for today.

Happy (late) International Women’s Day!

 

All the love as always,

adel.

 

11055612_1020474587980972_2078319146_n

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “How We (Should) Handle Stereotypes

  1. Wow wow wow keren abisssss
    Adel bener2 perempuan cerdas!!
    Suka banget dengan isi tulisannya👍👍 jurnalis cilik top banget dah!!

    Bu Sienny, sangat membanggakan!!

    Like

What Do You Think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s